Proses evakuasi korban runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, mengundang perhatian luas. Kapolda Jawa Timur bersama timnya secara langsung memimpin evakuasi ini demi memastikan keamanan dan kecepatan proses pencarian.
Hingga saat ini, tim telah berhasil mengidentifikasi lima jenazah di posko Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara Surabaya. Proses identifikasi yang masih berlangsung menandakan betapa pentingnya penanganan ini dalam membantu keluarga korban yang hilang.
Proses Evakuasi yang Terstruktur
Evakuasi korban runtuhan bangunan dilakukan dengan sangat hati-hati dan sistematis. Kapolda menyatakan bahwa upaya pencarian dilakukan tanpa henti selama 24 jam. Dengan dukungan personel yang memadai dan peralatan canggih, proses ini dibagi menjadi tiga klaster: santri, pengurus pesantren, dan pegawai yang terlibat dalam renovasi bangunan. Dari data awal, tercatat 58 orang yang belum ditemukan, dan upaya pencarian terus dioptimalkan.
Partisipasi tenaga ahli konstruksi dari institusi ternama seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Kementerian PUPR memastikan bahwa langkah-langkah evakuasi memenuhi standar keselamatan yang diperlukan. “Kami harus sangat hati-hati dalam memindahkan puing agar tidak ada yang terlewat,” kata Kapolda. Ini mencerminkan komitmen tidak hanya untuk menemukan korban, tetapi juga untuk menjamin keselamatan tim evakuasi.
Pentingnya Identifikasi Korban dan Penanganan Kemanusiaan
Fokus utama saat ini adalah mencari dan menangani korban dengan sepenuh hati. Meskipun waktu telah melewati fase kritis, komitmen untuk menemukan semua korban tetap kuat. Kapolda menegaskan, “Proses evakuasi akan tetap berlangsung hingga seluruh korban ditemukan.” Prioritas kini adalah kemanusiaan, dengan pengumpulan data identitas korban untuk memudahkan proses pencarian dan pengidentifikasian.
Kendati demikian, penanganan aspek hukum akan dilakukan setelah semua korban berhasil dievakuasi. Situasi ini menunjukkan bahwa bila dapatan awal terkait kelalaian konstruksi ada, hal tersebut tidak langsung diproses. “Kami akan menunggu hasil dari para ahli untuk menjelaskan penyebab runtuhnya bangunan secara ilmiah,” imbuh Kapolda. Hal ini menunjukkan profesionalisme dalam menangani masalah yang kompleks, dan kepedulian terhadap keluarga yang kini menunggu kejelasan nasib orang tercintanya.


