Jakarta – Sebuah kegiatan ilmiah penting dilaksanakan oleh Asosiasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain Indonesia yang dikenal dengan APEBSKID. Webinar bertajuk “Doa Keselamatan untuk Bangsa dalam Perspektif Multidisiplin” ini diadakan secara daring pada tanggal 31 Januari 2026, melibatkan peserta dari berbagai latar belakang akademik dan lokasi di seluruh Indonesia.
Webinar ini merupakan sebuah ruang dialog ilmu yang tidak hanya mengundi makna doa keselamatan bangsa dari aspek keagamaan. Melainkan juga dibahas melalui pendekatan linguistik, budaya, komunikasi, psikologi, dan sosial, guna memberikan pemahaman lebih komprehensif mengenai peran doa dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.
Pentingnya Pendekatan Multidisiplin dalam Memahami Doa
Dalam sambutan resmi, Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A., Ketua Dewan Pakar UNESA, menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin sangat krusial dalam memahami realitas sosial dan kebangsaan. Dia menekankan bahwa doa keselamatan bangsa bukan hanya sekadar sesuatu yang bersifat spiritual, melainkan juga merupakan ekspresi budaya yang mencerminkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat.
Doa berfungsi sebagai ikhtiar spiritual sekaligus jembatan antara individu dengan komunitas. Ketika masyarakat bersama-sama berdoa, mereka memperkuat rasa persatuan dan kedamaian, serta menciptakan harapan akan keberlanjutan bangsa. Melalui webinar ini, peserta diajak untuk memahami bahwa doa adalah upaya kolektif yang tidak boleh dianggap remeh dalam konteks sosial.
Diskusi Mendalam dengan Beragam Perspektif
Webinar ini dimoderatori oleh Dr. Ucik Fuadiyah, M.Pd., yang sangat efektif dalam memfasilitasi dialog antara narasumber dengan peserta. Tiga narasumber dihadirkan, masing-masing membawa perspektif yang unik berdasarkan disiplin ilmu dan pengalaman mereka. Narasumber pertama, Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., membahas pentingnya doa dalam konteks komunikasi interpersonal dan kesehatan mental.
Dr. Nurlina menjelaskan bahwa doa tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ekspresi spiritual, tetapi juga berperan dalam penguatan konsep diri dan penciptaan energi positif di tengah tantangan yang ada. Ia menyatakan: “Doa merupakan sarana komunikasi yang membantu membangun kesadaran diri dan empati sosial.” Keterkaitan ini menunjukkan bahwa doa memiliki potensi untuk merawat kesehatan mental masyarakat.
Narasumber kedua, Dr. Ni Kadek Juliantari, M.Pd., membawa perspektif linguistik dengan ulasan mengenai doa keselamatan bangsa dari sudut pandang pragmatik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik. Dia menekankan bahwa doa adalah wacana kompleks yang tidak hanya sekadar kata-kata, tetapi juga sebagai simbol yang membangun kohesi sosial.
Selain itu, Dr. Lily Thamrin, M.Ed., menjelaskan tentang konsep doa dalam kebudayaan Tionghoa, menguraikan ungkapan seperti guó tài mín ān (negara makmur, rakyat damai). Ini menunjukkan bahwa korban doa tidak hanya religius, tetapi juga mengakar dalam tradisi dan sejarah yang relevan dengan konteks kebangsaan yang plural. Pendekatan ini menyoroti pentingnya adanya dialog antara budaya untuk memperkaya pemahaman kebangsaan.
Melalui diskusi yang mendalam, webinar ini menunjukkan bahwa doa lebih dari sekadar praktik keagamaan; ia juga berfungsi sebagai alat komunikasi publik. Hal ini memungkinkan terbangunnya solidaritas dan harapan di tengah masyarakat yang beragam.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar bagi pemikiran lintas disiplin, serta mendorong masyarakat dan akademisi untuk merawat persatuan dan toleransi. Dengan cara ini, kita semua diajak untuk memperkuat rasa kebersamaan sebagai fondasi dalam membangun bangsa yang lebih harmonis.
Ketua APEBSKID menegaskan komitmen lembaga untuk mengadakan forum-forum ilmiah yang inklusif dan relevan, serta mendorong kolaborasi lintas disiplin sebagai langkah penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan bangsa. Ini adalah wujud nyata dari upaya untuk mengintegrasikan berbagai disiplin guna mencapai tujuan bersama dalam berkarya bagi bangsa.


