Di tengah cuaca ekstrem yang melanda, banjir di Sungai Noelmina menjadi tantangan untuk menyalurkan kebutuhan gizi anak-anak. Relawan bersama warga setempat mengambil langkah berani menyeberangi sungai berarus deras demi memastikan distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah terpencil.
Musim hujan yang berkepanjangan di NTT mengakibatkan banyak sungai meluap, termasuk Sungai Noelmina. Luapan ini berpotensi menghambat penyaluran MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Koa menuju sekolah-sekolah di Desa Tuppan. Sementara itu, kebutuhan gizi bagi anak-anak sekolah tidak bisa menunggu hingga kondisi membaik.
Upaya Relawan dalam Pendistrubusian Gizi
Walaupun kondisi cuaca tidak mendukung, semangat gotong royong dari relawan dan masyarakat lokal tak mundur. Dengan peralatan seadanya, mereka bekerja sama untuk menggotong paket-paket MBG menyeberangi sungai yang saat itu berarus deras. Makanan yang dihasilkan di dapur dibawa menggunakan mobil hingga tepi Sungai Noelmina, sebelum akhirnya diangkut dengan tangan dan gerobak menuju sekolah-sekolah penerima.
Distribusi kali ini membawa 430 paket MBG, yang didistribusikan ke lima sekolah, termasuk dua Sekolah Dasar dan dua Pendidikan Anak Usia Dini. Edigar Noel Alves Boavida, Kepala SPPG Desa Koa, menekankan pentingnya usaha ini, terutama dalam kondisi sulit seperti banjir. “Sudah tiga hari terakhir kita melakukan distribusi dengan cara ini,” katanya.
Harapan dan Solusi untuk Wilayah Terpencil
Saat ini, SPPG Desa Koa melayani sekitar 1.384 penerima manfaat yang mencakup anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di beberapa desa. Edigar berharap agar pemerintah dapat membangun jembatan yang menghubungkan desa-desa tersebut. Jembatan akan sangat membantu dalam mendistribusikan MBG dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk perjalanan dengan risiko tinggi.
Perjalanan alternatif melalui jalur darat memang mungkin, namun dapat memakan waktu hingga tiga atau empat jam melewati kondisi jalan yang tidak memadai. “Kami berharap agar upaya pembangunan jembatan secepatnya dilaksanakan untuk memperlancar akses ke desa seberang,” ungkap Edigar. Ia juga berharap bahwa Satgas Percepatan Pembangunan yang dibentuk oleh pemerintah dapat segera turun tangan menyelesaikan masalah infrastruktur di daerah-daerah terpencil seperti Desa Koa.


