Jakarta — Rekrutmen Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tahun ini mencatatkan jumlah pendaftar yang mengesankan, mencapai lebih dari 8.000 orang. Angka ini menunjukkan betapa banyaknya masyarakat yang ingin bergabung dengan institusi kepolisian. Namun, tingginya antusiasme ini juga menimbulkan risiko penipuan yang dapat merugikan calon pendaftar.
Masyarakat harus waspada terhadap adanya calo atau pihak-pihak tertentu yang menawarkan jasa untuk membantu lolos seleksi rekrutmen dengan imbalan tertentu. Hal ini diungkapkan oleh pihak Polri, khususnya Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, yang menekankan pentingnya jalur pendaftaran yang resmi dan transparan.
Tingginya Antusiasme Calon Taruna Akpol
Data terakhir menunjukkan total pendaftar untuk semua jalur keanggotaan Polri, termasuk Tamtama, Bintara, dan Akpol, mencapai 116.732 orang. Dari jumlah tersebut, pendaftar Bintara merupakan yang terbanyak. Hal ini menandakan bahwa institusi kepolisian tetap menjadi pilihan karier yang menarik bagi banyak orang di Indonesia.
Pihak Polri, melalui Komjen Dedi Prasetyo, mempertegas bahwa proses rekrutmen Akpol berlangsung dengan jalur reguler. Dalam praktek ini, calon taruna akan menghadapi berbagai tahap seleksi yang dirancang untuk menghasilkan individu yang berkompeten dan siap mengikuti pendidikan di akademi. Proses ini diharapkan dapat melahirkan taruna yang tidak hanya berpotensi, tetapi juga mampu menjalani pelatihan keras di Akpol.
Proses Seleksi yang Bersih dan Transparan
Keberhasilan proses rekrutmen sangat bergantung pada transparansi dan akuntabilitas. Polri telah menerapkan prinsip Betah (Bersih, Transparan, Akuntabel, Humanis) dalam seleksi anggotanya. Calon taruna akan mendapatkan akses untuk melihat nilai tes mereka secara real-time setelah setiap tahap seleksi. Metode ini tidak hanya menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan pendaftar tetapi juga memberikan rasa adil karena mereka dapat mengetahui capaian mereka dengan cepat.
Setiap calon taruna akan melalui berbagai jenis tes, mulai dari kesehatan, psikologi, hingga kemampuan jasmani. Semua nilai diperoleh secara objektif, sehingga setiap individu dapat melakukan evaluasi diri: apakah persiapan mereka sudah memadai atau ada aspek yang perlu ditingkatkan. Dengan cara ini, Polri berupaya menghilangkan praktik-praktik negatif semacam calo yang dapat merugikan baik calon pendaftar maupun institusi itu sendiri.
Lebih lanjut, Dedi menekankan pentingnya persiapan yang matang. Calon taruna harus mempersiapkan diri dengan baik, latihan secara serius, dan memahami bahwa kelulusan tidak ditentukan oleh pihak luar. Ini adalah penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses rekrutmen yang fair dan berbasis prestasi.
Penting untuk diketahui bahwa ada konsekuensi hukum bagi siapa pun yang terlibat dalam praktik penipuan dalam rekrutmen ini. Sebelumnya, sudah banyak kasus di mana masyarakat menjadi korban penipuan calo yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang. Kasus-kasus ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua calon pendaftar untuk tidak mudah tergiur pada tawaran yang tidak jelas.
Berikut adalah tahapan tes Akpol di tingkat panitia daerah:
a. Pemeriksaan administrasi awal dengan penilaian kualitatif
b. Pemeriksaan kesehatan tahap I dengan penilaian kualitatif
c. Tes psikologi tahap I sistem Computer Assisted Test (CAT), penilaian kuantitatif dan kualitatif
d. Test akademik tahap I, sistem CAT dengan penilaian kuantitatif meliputi:
– pengetahuan umum (termasuk UU Kepolisian)
– wawasan kebangsaan (UUD 1945, NKRI, Bineka Tunggal Ika, wawasan nusantara dan kewarganegaraan)
– tes penalaran numerik
– Bahasa Indonesia
e. Tes EKG dengan penilatan kualitatif
f. Uji kemampuan jasmani (kesamaptaan A, B dan renang) dengan penilaian kuantitatif dan kualitatif, serta pemeriksaan anthropometrik dengan penilaian kualitatif.
g. Sidang penetapan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan tahap II
h. Pemeriksaan kesehatan tahap II dengan penilaian kualitatif
i. Pendalaman PMK dan Tes psikologi tahap II sistem wawancara, penilaian kualitatif
j. Pemeriksaan administrasi akhir dengan penilaian kualitatif
k. Sidang terbuka penetapan kelulusan tingkat daerah.
Berikut adalah tahapan tes Akpol di tingkat panitia pusat:
a. Pemeriksaan administrasi dengan penilaian kualitatif
b. Pemeriksaan kesehatan tahap I dan II dengan penilaian kualitatif
c. Pemeriksaan mental dan ideologi dengan CAT
d. Tes akademik meliputi TPA dengan Bahasa Inggris menggunakan CAT, penilaian kuantitatif
e. Tes psikologi wawancara dengan penilaian kualitatif
f. Pendalaman PMK dengan penilaian kualitatif
g. Tes kesamaptaan jasmani (kesamaptaan A, B dan renang) dengan penilaian kuantitatif dan kualitatif, serta pemeriksaan anthropometrik dengan penilaian kualitatif.
h. Pemeriksaan penampilan dengan penilaian kualitatif
i. Sidang terbuka kelulusan tingkat pusat.


